Monumen Nasional
Artikel ini memerlukan lebih tidak sedikit catatan kaki guna pemastian. Bantulah memperbaiki tulisan ini dengan menambahkan daftar kaki dari sumber yang terpercaya. Tulisan yang tidak bisa diverifikasi bakal dipertanyakan serta bisa disembunyikan ataupun dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus.
(Desember 2016)
Monumen Nasional
Monumen Nasional
[ {"properties":{"stroke-width":3,"stroke":"#FF0000","title":"Monumen Nasional"},"type":"ExternalData","service":"geoshape","ids":"Q145151"}, {"properties":{"stroke-width":5,"stroke":"#FF0000","title":"Monumen Nasional"},"type":"ExternalData","service":"geoline","ids":"Q145151"}, {"type":"Feature","geometry":{"coordinates":[106.82711388889,-6.1754027777778],"type":"Point"},"properties":{"title":"Monumen Nasional","marker-color":"5E74F3"}}
]
Informasi umum
Lokasi
Jakarta, Indonesia
Alamat
Lapangan Merdeka
Mulai dibangun
17 Agustus 1961
Selesai
12 Juli 1975
Diresmikan
12 Juli 1975
Tinggi
132 meter
Desain dan konstruksi
Arsitek
Frederich Silaban,
R.M. Soedarsono
Kontraktor utama
P.N. Adhi Karya
(tiang fondasi)
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas ialah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk memperingati perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia guna merebut kebebasan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dibuka pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dimulai untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang menggambarkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.
Kumpulan isi
1
Sejarah
2
Pembangunan
3
Rancang Bangun Monumen
4
Relief Sejarah Indonesia
5
Museum Sejarah Nasional
6
Ruang Kemerdekaan
7
Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan
8
Galeri
9
Referensi
10
Catatan kaki
11
Pranala luar
Sejarah[sunting | sunting sumber]
Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia pulang ke Jakarta sesudah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pernyataan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai merencanakan pembangunan suatu monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan memperingati dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kebebasan 1945, supaya terus membangkitkan ilham dan motivasi patriotisme generasi penerus bangsa.
Pada tanggal 17 Agustus 1954 suatu komite nasional disusun dan sayembara perancangan monumen nasional dilangsungkan pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, bakal tetapi melulu satu karya yang diciptakan oleh Frederich Silaban yang mengisi kriteria yang ditentukan komite, antara lain mencerminkan karakter bangsa Indonesia dan bisa bertahan sekitar berabad-abad. Sayembara kedua dilangsungkan pada tahun 1960 namun sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang mengisi kriteria. Ketua juri lantas meminta Silaban untuk mengindikasikan rancangannya untuk Sukarno. Akan namun Sukarno tidak cukup menyukai rancangan tersebut dan ia mengharapkan monumen tersebut berbentuk lingga dan yoni. Silaban lantas diminta merancang monumen dengan tema laksana itu, akan namun rancangan yang dikemukakan Silaban terlalu spektakuler sehingga biayanya paling besar dan tidak dapat ditanggung oleh perkiraan negara, terlebih situasi ekonomi ketika itu lumayan buruk. Silaban menampik merancang bangunan yang lebih kecil, dan menganjurkan pembangunan ditunda sampai ekonomi Indonesia membaik. Sukarno lantas meminta arsitek R.M. Soedarsono guna melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, menggambarkan 17 Agustus 1945 mengawali Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.[1][2][3] Tugu Peringatan Nasional ini lantas dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu ini diarsiteki oleh Frederich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai di bina 17 Agustus 1961.
Pembangunan[sunting | sunting sumber]
Soekarno menginspeksi pembangunan Monas. Foto ini diciptakan sekitar tahun 1963-1964.
Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap kesatu, kurun 1961/1962 - 1964/1965 dibuka dengan dimulainya secara sah pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton kesatu. Total 284 pasak beton dipakai sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan guna fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulan Maret 1962. Dinding museum di dasar bangunan berlalu pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dibuka dan kesudahannya rampung pada bulan Agustus 1963. Pembangunan etape kedua dilangsungkan pada kurun 1966 sampai 1968 dampak terjadinya Gerakan 30 September sampai-sampai tahap ini sempat tertunda. Tahap akhir dilangsungkan pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan sudah rampung, masalah masih saja terjadi, antara beda kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dimulai untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.[4][5] Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas merasakan lima kali penggantian nama yakni Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu ada taman, dua buah empang dan sejumlah lapangan terbuka lokasi berolahraga. Pada hari-hari cuti Medan Merdeka diisi pengunjung yang berekreasi merasakan pemandangan Tugu Monas dan mengerjakan berbagai kegiatan dalam taman.
Rancang Bangun Monumen[sunting | sunting sumber]
Monumen Nasional dalam etape pembangunan.
Rancang bangun Tugu Monas menurut pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni. Tugu obelisk yang menjulang tinggi ialah lingga yang menggambarkan laki-laki, unsur maskulin yang mempunyai sifat aktif dan positif, serta menggambarkan siang hari. Sementara pelataran cangkir landasan obelisk ialah Yoni yang menggambarkan perempuan, unsur feminin yang pasif dan negatif, serta menggambarkan malam hari.[6] Lingga dan yoni merupakan emblem kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sejak masa prasejarah Indonesia. Di samping itu format Tugu Monas pun dapat diartikan sebagai sepasang "alu" dan "Lesung", perangkat penumbuk padi yang didapati dalam setiap lokasi tinggal tangga petani tradisional Indonesia. Dengan demikian rancang bangun Monas sarat dimensi khas kebiasaan bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi 17 meter, pelataran cawan. Monumen ini dilapisi dengan marmer Italia.
Kolam di Taman Medan Merdeka Utara berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai unsur dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekatnya terdapat empang air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, tercipta dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu diciptakan oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato[7] sebagai donasi oleh Konsul Jenderal Kehormatan, Dr. Mario, di Indonesia. Pintu masuk Monas ada di taman Medan Merdeka Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melewati terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung mengarah ke tugu Monas. Loket tiket sedang di ujung terowongan. Ketika pengunjung naik pulang ke permukaan tanah di sisi unsur utara Monas, pengunjung bisa melanjutkan berkeliling menyaksikan relief sejarah perjuangan Indonesia; masuk ke dalam museum sejarah nasional melewati pintu di sudut unsur timur laut, atau langsung naik ke tengah mengarah ke ruang kebebasan atau lift mengarah ke pelataran puncak monumen.
Relief Sejarah Indonesia[sunting | sunting sumber]
Relief timbul sejarah Indonesia memperlihatkan Gajah Mada dan sejarah Majapahit
Pada tiap sudut halaman luar yang mengelilingi monumen ada relief yang mencerminkan sejarah Indonesia. Relief ini berawal di sudut unsur timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; memperlihatkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis sehaluan jarum jam mengarah ke sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis mencerminkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi canggih yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada mula abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kebebasan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kebebasan Republik Indonesia, sampai mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini diciptakan dari semen dengan kerangka pipa atau logam, namun sejumlah patung dan arca terlihat tak terawat dan rusak dampak hujan serta cuaca tropis.
Museum Sejarah Nasional[sunting | sunting sumber]
Pelajar menyimak diorama sejarah Indonesia
Di unsur dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, ada Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, bisa menampung pengunjung selama 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini ada 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sampai-sampai menjadi total 51 diorama. Diorama ini memperlihatkan sejarah Indonesia semenjak masa pra sejarah sampai masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut unsur timur laut bergerak sehaluan jarum jam mencari perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno laksana Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan semua pahlawan nasional pra kebebasan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama dilangsungkan terus sampai masa pergerakan nasional Indonesia mula abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kebebasan dan masa revolusi, sampai masa Orde Baru pada masa pemerintahan Suharto.
Ruang Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]
Ruang kemerdekaan
Di unsur dalam cangkir monumen ada Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini dapat dijangkau melalui tangga berputar di dari pintu sisi unsur utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kebebasan Republik Indonesia. Diantaranya naskah pribumi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditabung dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, emblem negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.[1][8]. Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini dipakai sebagai ruang tenang guna mengheningkan cipta dan bermeditasi memperingati hakikat kebebasan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah pribumi proklamasi kebebasan Indonesia ditabung dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini tercipta dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang menggambarkan keabadian, serta bunga Teratai yang menggambarkan kesucian. Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis bakal membuka sambil memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" dibuntuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Pada sisi unsur selatan ada patung Garuda Pancasila, emblem negara Indonesia tercipta dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi unsur timur ada tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini memperlihatkan bendera yang sangat suci dan diagungkan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi sebab kondisinya telah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi unsur utara dinding marmer hitam ini memperlihatkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]
Pelataran setinggi 115 meter lokasi pengunjung dapat merasakan panorama Jakarta dari ketinggian
Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi unsur selatan akan membawa pengunjung mengarah ke pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di elevasi 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Pelataran puncak ini bisa menampung selama 50 orang, serta ada teropong untuk menyaksikan panorama Jakarta lebih dekat. Pada sekeliling badan elevator ada tangga terpaksa yang tercipta dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat merasakan pemandangan semua penjuru kota Jakarta. Bila situasi cuaca terang tanpa asap kabut, di arah ke unsur selatan terlihat dari kejauhan Gunung Salak di distrik kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara menghampar laut lepas dengan pulau-pulau kecil.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cangkir yang menopang nyala lampu perunggu yang beratnya menjangkau 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 unsur yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol motivasi perjuangan rakyat Indonesia yang hendak meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 kilogram[1], akan namun untuk menyambut perayaan separuh abad (50 tahun) kebebasan Indonesia pada tahun 1995, lembaran emas ini dilapis ulang sehingga menjangkau berat 50 kilogram lembaran emas.[9] Puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang bermakna supaya Bangsa Indonesia senantiasa mempunyai semangat yang menyala-nyala dalam berusaha dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa. Pelataran cangkir memberikan pemandangan untuk pengunjung dari elevasi 17 meter dari permukaan tanah. Pelataran cangkir dapat dijangkau melalui elevator saat turun dari pelataran puncak, atau melewati tangga menjangkau dasar cawan. Tinggi pelataran cangkir dari dasar 17 meter, sementara rentang tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan ialah 8 m (3 meter di bawah tanah diperbanyak 5 meter tangga mengarah ke dasar cawan). Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 x 45 meter, semuanya adalahpelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).
Sebanyak 28 kg dari 38 kg emas pada obor monas itu adalahsumbangan dari Teuku Markam, seorang pengusaha Aceh yang pernah menjadi di antara orang terkaya di Indonesia.[10]
Pandangan Jakarta Pusat dari puncak Monumen Nasional
Kursus Komputer bersertifikat. Lembaga kursus Citra Telematika menyelenggarakan :
1. Aplikasi Perkantoran
2. Desain Grafis
3. Jaringan Komputer
4. Robotika
5. Pemasaran Digital
Citra Telematika - Kursus Komputer di Majalengka
|
Jl. Raya Timur No. 65, Ciborelang, Jatiwangi
Kab. Majalengka
(0233) 8281236 | 085216667297


0 Komentar