Kursus Komputer Majalengka
Bahasa Melayu

Artikel ini memerlukan lebih tidak sedikit catatan kaki guna pemastian. Bantulah memperbaiki tulisan ini dengan menambahkan daftar kaki dari sumber yang terpercaya. Tulisan yang tidak bisa diverifikasi bakal dipertanyakan serta bisa disembunyikan ataupun dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus.
Artikel ini bukan tentang bahasa Malaysia.
Bahasa Melayu
بهاس ملايو
Dituturkan di
Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura, unsur selatan Filipina, Thailand Selatan, Timor Leste, Sri Langka, Afrika Selatan, dan Australia (Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos).
Dialek standar nasional di Indonesia dikenal sebagai Bahasa Indonesia.
Penutur bahasa
Penutur asli: 60 juta
total 300 juta (date missing)
Rumpun bahasa
Austronesia
Melayu-Polinesia (MP)
MP Inti
Melayu-Sumbawa
Melayik
Melayu-Melayu
Bahasa Melayu
Sistem penulisan
Alfabet Latin (Alfabet Bahasa Melayu)
Braille Melayu
Abjad Jawi
Status resmi
Bahasa sah di
Brunei
Indonesia (sebagai bahasa Indonesia)
Malaysia (sering disebut bahasa Malaysia)
Singapura
Diatur oleh
Dewan Bahasa dan Pustaka (Malaysia), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Indonesia), Majelis Bahasa Brunei Darussalam – Indonesia – Malaysia (MABBIM) (gabungan)
Kode bahasa
ISO 639-1
ms
ISO 639-2
may/msa
ISO 639-3

Dalam definisi awam, istilah bahasa Melayu (Jawi/Jawöe/Melayu : بهاس ملايو) merangkum sejumlah bahasa yang saling berserupaan yang dituturkan di distrik Nusantara dan di Semenanjung Melayu. Sebagai bahasa yang luas pemakaiannya, bahasa ini menjadi bahasa sah di Brunei, Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), dan Malaysia (juga dikenal sebagai bahasa Malaysia); bahasa nasional Singapura; dan menjadi bahasa kerja di Timor Leste (sebagai bahasa Indonesia). Bahasa Melayu adalahlingua franca dalam pekerjaan perdagangan dan keagamaan di Nusantara semenjak abad ke-7[1]. Migrasi kemudian pun turut memperluas pemakaiannya. Di samping di negara yang dinamakan sebelumnya, bahasa Melayu dituturkan pula di Afrika Selatan, Sri Lanka, Thailand selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, beberapa kecil Kamboja, sampai Papua Nugini. Bahasa ini pun dituturkan oleh warga Pulau Natal dan Kepulauan Cocos, yang menjadi unsur Australia.
Dari segi linguistik, sekarang ditentukan sebuah rumpun bahasa Melayu yang terdiri dari 45 bahasa, yang pada gilirannya dipecah dalam kumpulan berikut :
Trade Malay (bahasa "Melayu Pasar"), yang merangkum 11 bahasa :
Kelompok Indonesia Timur (6 bahasa) :
bahasa Melayu Ambon,
bahasa Melayu Banda,
bahasa Melayu Kupang,
bahasa Melayu Manado,
bahasa Melayu Maluku Utara,
bahasa Melayu Papua,
Bahasa Betawi;
bahasa Melayu Bali;
bahasa Melayu Cocos,
bahasa Melayu Larantuka;
bahasa Melayu Makassar;
bahasa Bangka;
bahasa Banjar;
bahasa Melayu Brunei;
bahasa Col;
bahasa Duano;
bahasa Haji;
bahasa Indonesia;
bahasa Jakun;
bahasa Kaur;
bahasa Kerinci;
bahasa Kubu;
bahasa Loncong;
bahasa Lubu;
bahasa Malaysia;
bahasa Melayu Bacan;
bahasa Melayu Berau;
bahasa Melayu Bukit;
bahasa Melayu Tengah;
bahasa Melayu Jambi;
bahasa Melayu Kedah;
bahasa Melayu Kelantan;
bahasa Melayu Kota Bangun Kutai;
bahasa Melayu Pahang;
bahasa Melayu Pattani;
bahasa Melayu Perak;
bahasa Melayu Sabah;
bahasa Melayu Sarawak;
bahasa Melayu Tenggarong Kutai;
bahasa Melayu Terengganu;
bahasa Dayak Melayik;
bahasa Minangkabau;
bahasa Musi;
bahasa Melayu Negeri Sembilan;
bahasa Orang Kanaq;
bahasa Melayu Timor Leste
bahasa Orang Seletar;
bahasa Pekal;
bahasa Temuan;
bahasa Urak Lawoi';
bahasa Yawi.
Kelompok Melayu tersebut ialah yang terbesar dalam rumpun bahasa Melayik.
Kumpulan isi
1
Perbandingan dari sejumlah bahasa Melayu
2
Tanah asal usul penutur bahasa Melayu
3
Sejarah
4
Varian-varian bahasa Melayu
4.1
Dialek Melayu Indonesia
4.1.1
Dialek Melayu Indonesia di Regional Sumatera
4.1.2
Dialek Melayu Indonesia di Regional Kalimantan
4.1.3
Dialek Melayu Indonesia Indonesia Timur
4.2
Bahasa kerabat Melayu
4.3
Bahasa Melayu Kreol
4.4
Dialek luar Indonesia
4.5
Para-Malay
4.6
Melayu-Aborigin
4.7
Dayak Melayik
5
Bunyi
6
Kata serapan Bahasa Melayu
7
Lihat pula
8
Catatan kaki
9
Referensi yang dinamakan dalam artikel
10
Pranala luar
Perbandingan dari sejumlah bahasa Melayu[sunting | sunting sumber]
Persamaan antara sekian banyak  bahasa dari rumpun Melayu bisa misalnya disaksikan dalam komparasi kosakata berikut:
Bahasa Indonesia
apa
laut
lihat
kucing
pergi
ular
keras
manis
lutut
Bahasa Melayu Pontianak
ape
laot
liat
kucing
pegi
ulagh
keghas
manes
lutot
Bahasa Banjar
apa
laut
liat
kucing
tulak
ular
karas
manis
lintuhut/tu'ut
Bahasa Minangkabau
apo
lauiʔ
liaiʔ/caliaʔ
kuciang
pai
ula
kareh
manih
lutuiʔ
Bahasa Pekal
apo
lawik
liek
kucing
lalui
ulah
kehas
manis
lutuik
Bahasa Yawi (Pattani)
penamo
lauʔ
lihaʔ
kucing
gi
ula
kerah
manih
lutuʔ
Bahasa Melayu Setul (Satun)
penamɑ
lawt
lihayt
kucin
pi
ulaq
keghaih
manih
lutuyt
Bahasa Urak Lawoi'
namɑ
lawoiʔ
lihaiʔ
mi'aw
pi
ulal
kras
maneh
lutoiʔ
Perbedaan dapat disaksikan dalam versi setiap dari Pernyataan Umum mengenai Hak-Hak Asasi Manusia :
Bahasa Inggris
Bahasa Indonesia
Bahasa Malaysia
Bahasa Minangkabau
Universal Declaration of Human Rights
Pernyataan Umum mengenai Hak-Hak Asasi Manusia
Perisytiharan Hak Asasi Manusia Sejagat
Deklarasi Sadunia Hak-Hak Asasi Manusia
Article 1
Pasal 1
Perkara 1
Pasal 1
All human beings are born free and equal in dignity and rights. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood.
Semua orang dicetuskan merdeka dan memiliki martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama beda dalam motivasi persaudaraan.
Semua manusia dicetuskan merdeka dan memiliki martabat dan hak-hak yang sama. Mereka memiliki pemikiran dan hati nurani dan hendaklah bergaul antara satu sama beda dengan motivasi persaudaraan.
Sadonyo insan dilahiakan mardeka dan punyo martabat sarato hak-hak nan samo. Mareka dikaruniai aka jo hati nurani, supayo satu samo beda bagaul sarupo urang badunsanak.
Bahasa Lampung
Bahasa Melayu Pontianak
Bahasa Banjar
Pernyataan seduniya mengenai Hak Dasar Jelema
Pernyataan Dunie mengenai Hak-hak Asasi Manusie
Parnyataan Saduniaan mengenai Hak-hak Asasi Manusia
Pasal 1
Pasal 1
Unyin Jelema dilaheʁko merdeka jama wat pi'il ʁik hak sai gokgoh. Tiyan dikaruniako akal jama hati nurani maʁai unggal tiyan dapok nengah nyampoʁ dilom motivasi muaʁiyan.
Semue manusie dilaherkan bebas dan punye martabat dan hak-hak yang same. Mereke punye akal dan hati nurani dan hendaklah bergaul salah satu satu same laen dengan motivasi persaudaraan.
Sabarataan insan diranakakan bibas mardika wan ba'isi martabat lawan jua ba'isi hak-hak nang sama. Bubuhannya sabarataan dibari'i akal wan jua pangrasa hati nurani, agar samunyaan urang antara sa'ikung lawan sa'ikung bapatutan nangkaya urang badangsanakan.

Tanah asal usul penutur bahasa Melayu[sunting | sunting sumber]
Catatan tertulis kesatu dalam bahasa Melayu ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, di distrik yang sekarang dirasakan sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Istilah "Melayu" sendiri berasal dari Kerajaan Minanga (Malayu) yang berlokasi di Kabupaten Kampar, Riau. Akibat pemakaiannya yang luas, sekian banyak  varian bahasa dan logat Melayu berkembang di Nusantara.
Ada tiga teori yang diajukan tentang asal usul penutur bahasa Melayu (atau bentuk tadinya sebagai anggota bahasa-bahasa Dayak Malayik).[2] Hudson (1970) melontarkan teori asal dari Kalimantan, menurut kesamaan bahasa Dayak Malayik (dituturkan orang-orang Dayak berbahasa Melayu) dengan bahasa Melayu Kuno, penuturnya yang hidup di pedalaman, dan karakter kosakata yang konservatif.[3] Kern (1888) berpikir bahwa tanah asal penutur ialah dari Semenanjung Malaya dan menampik Kalimantan sebagai tanah asal. Teori ini sempat diterima lumayan lama (karena sejalan dengan teori migrasi dari Asia Tenggara daratan) sampai akhirnya pada akhir abad ke-20 bukti-bukti linguistik dan sejarah membantah hal ini (Adelaar, 1988; Belwood, 1993) dan teori asal dari Sumatera yang menguat, menurut bukti-bukti tulisan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]
Lihat pula: Sejarah Bahasa Indonesia
Bahasa Melayu tergolong dalam bahasa-bahasa Melayu Polinesia di bawah rumpun bahasa Austronesia. Berdasarkan keterangan dari statistik pemakaian bahasa di dunia, penutur bahasa Melayu diduga mencapai lebih tidak cukup 250 juta jiwa yang adalahbahasa keempat dalam urutan jumlah penutur terpenting untuk bahasa-bahasa di dunia.[4],[5]

Prasasti Telaga Batu, salah satu daftar bahasa Melayu terawal.

Catatan tertulis kesatu dalam bahasa Melayu Kuno berasal dari abad ke-7 Masehi, dan tertera pada sejumlah prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya di bagian unsur selatan Sumatera dan wangsa Syailendra di sejumlah tempat di Jawa Tengah. Tulisan ini memakai aksara Pallawa.[6] Selanjutnya, bukti-bukti tertulis berlahiran di sekian banyak  tempat, meskipun dokumen terbanyak banyak sekali mulai berasal dari abad ke-18.
Sejarah pemakaian yang panjang ini pasti saja menyebabkan perbedaan versi bahasa yang digunakan. Ahli bahasa membagi pertumbuhan bahasa Melayu ke dalam tiga etape utama, yakni
Bahasa Melayu Kuno (abad ke-7 sampai abad ke-13)
Bahasa Melayu Klasik, mulai ditulis dengan huruf Jawi (sejak abad ke-15)
Bahasa Melayu Modern (sejak abad ke-20)
Walaupun demikian, tidak terdapat bukti bahwa ketiga format bahasa Melayu itu saling bersinambung. Di samping itu, pemakaian yang meluas di sekian banyak  tempat memunculkan sekian banyak  dialek bahasa Melayu, baik sebab penyebaran warga dan isolasi, maupun melewati kreolisasi.
Selepas masa Sriwijaya, daftar tertulis mengenai dan dalam bahasa Melayu baru hadir semenjak masa Kesultanan Malaka (abad ke-15). Laporan Portugis dari abad ke-16 menyebut-nyebut tentang perlunya penguasaan bahasa Melayu guna bertransaksi perdagangan. Seiring dengan runtuhnya dominasi Portugis di Malaka, dan bermunculannya sekian banyak  kesultanan di pesisir Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, serta unsur selatan Filipina, dokumen-dokumen tertulis di kertas dalam bahasa Melayu mulai ditemukan. Surat-menyurat antarpemimpin kerajaan pada abad ke-16 pun diketahui telah memakai bahasa Melayu. Karena bukan penutur pribumi bahasa Melayu, mereka memakai bahasa Melayu yang "disederhanakan" dan merasakan percampuran dengan bahasa setempat, yang lebih populer sebagai bahasa Melayu Pasar (Bazaar Malay). Tulisan pada masa ini telah memakai huruf Arab (kelak dikenal sebagai huruf Jawi) atau pun menggunakan huruf setempat, laksana hanacaraka.[6]
Rintisan ke arah bahasa Melayu Modern dibuka ketika Raja Ali Haji, sastrawan istana dari Kesultanan Riau Lingga, secara sistematis merangkai kamus ekabahasa bahasa Melayu (Kitab Pengetahuan Bahasa, yakni Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang kesatu) pada pertengahan abad ke-19. Perkembangan berikutnya terjadi saat sarjana-sarjana Eropa (khususnya Belanda dan Inggris) mulai mempelajari bahasa ini secara sistematis sebab memandang urgen menggunakannya dalam hal administrasi. Hal ini terjadi pada paruh kedua abad ke-19. Bahasa Melayu Modern dicirikan dengan pemakaian alfabet Latin dan masuknya tidak sedikit kata-kata Eropa. Pengajaran bahasa Melayu di sekolah-sekolah sejak mula abad ke-20 semakin menciptakan populer bahasa ini.
Di Indonesia, pendirian Balai Poestaka (1901) sebagai percetakan buku-buku latihan dan sastra mengirimkan kepopuleran bahasa Melayu dan bahkan menyusun suatu varian bahasa tersendiri yang mulai bertolak belakang dari induknya, bahasa Melayu Riau. Kalangan peneliti sejarah bahasa Indonesia masa sekarang menjulukinya "bahasa Melayu Balai Pustaka"[7] atau "bahasa Melayu van Ophuijsen". Van Ophuijsen ialah orang yang pada tahun 1901 merangkai ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin untuk pemakaian di Hindia Belanda. Ia pun menjadi penyunting sekian banyak  buku sastra terbitan Balai Pustaka. Dalam masa 20 tahun berikutnya, "bahasa Melayu van Ophuijsen" ini lantas dikenal luas di kalangan orang-orang asli dan mulai dirasakan menjadi identitas kebangsaan Indonesia. Puncaknya ialah ketika dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928) dengan jelas dinyatakan, "menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Sejak ketika itulah bahasa Melayu diusung menjadi bahasa kebangsaan.
Introduksi varian kebangsaan ini mendesak bentuk-bentuk bahasa Melayu lain, tergolong bahasa Melayu Tionghoa, sebagai format cabang dari bahasa Melayu Pasar, yang sudah populer digunakan sebagai bahasa surat kabar dan sekian banyak  karya rekaan di dekade-dekade akhir abad ke-19. Bentuk-bentuk bahasa Melayu di samping varian kebangsaan dianggap format yang "kurang mulia" dan pemakaiannya berangsur-angsur melemah.
Pemeliharaan bahasa Melayu baku (bahasa Melayu Riau) terjaga dampak meluasnya pemakaian bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari. Sikap orang Belanda yang pada waktu tersebut tidak suka bilamana orang pribumi memakai bahasa Belanda pun menyebabkan bahasa Melayu menjadi semakin populer.
Pada mula tahun 2004, Dewan Bahasa dan Pustaka (Malaysia) dan Majelis Bahasa Brunei Darussalam - Indonesia - Malaysia (MABBIM) berencana menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa sah dalam organisasi ASEAN, dengan memandang lebih setengah jumlah warga ASEAN dapat bertutur dalam bahasa Melayu. Rencana ini belum pernah terealisasikan, namun ASEAN kini selalu menciptakan dokumen pribumi dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam bahasa resmi setiap negara anggotanya.

Varian-varian bahasa Melayu[sunting | sunting sumber]
Artikel utama guna bagian ini merupakan: Kumpulan varian bahasa Melayu
Bahasa Melayu paling bervariasi. Penyebab yang utama ialah tidak adanya institusi yang mempunyai kekuatan untuk menata pembakuannya. Kerajaan-kerajaan Melayu melulu mempunyai kekuatan regulasi sekedar wilayah kekuasaannya, sebenarnya bahasa Melayu digunakan oleh orang-orang jauh di luar batas dominasi mereka. Akibatnya muncul sekian banyak  dialek (geografis) maupun sosiolek (dialek sosial). Pemakaian bahasa ini oleh masyarakat berlatar belakang etnik lain pun memunculkan sekian banyak  varian kreol di mana-mana, yang masih digunakan hingga sekarang. Bahasa Betawi, suatu format kreol, bahkan kini mulai memengaruhi secara powerful bahasa Indonesia dampak pemakaiannya oleh kalangan muda Jakarta dan digunakan secara meluas di program-program hiburan televisi nasional.
Ada kendala dalam mengelompokkan bahasa-bahasa Melayu. Sebagaimana sejumlah bahasa di Nusantara, tidak terdapat batas tegas antara satu varian dengan varian beda yang penuturnya berdampingan secara geografis. Perubahan logat seringkali mempunyai sifat bertahap. Bagi kemudahan, seringkali dilakukan pengelompokan varian sebagai berikut:
Bahasa-bahasa Melayu Tempatan (Lokal)
Bahasa-bahasa Melayu Kerabat (Paramelayu, Paramalay = Melayu "tidak penuh")
Bahasa-bahasa kreol (bukan suku/penduduk melayu) menurut bahasa Melayu
Jumlah penutur bahasa Melayu di Indonesia paling banyak, bahkan dari sisi jumlah mendahului jumlah penutur bahasa Melayu di Malaysia maupun di Brunei Darussalam. Bahasa Melayu dituturkan mulai sepanjang pantai unsur timur Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu sampai pesisir Pulau Borneo dan kota Negara, Bali.[8]

Dialek Melayu Indonesia[sunting | sunting sumber]

Dialek Melayu Indonesia di Regional Sumatera[sunting | sunting sumber]
Dialek Tamiang : dituturkan di kabupaten Aceh Tamiang, Aceh
Dialek Langkat : dituturkan di area Langkat, Sumatera Utara
Dialek Deli : dituturkan di Medan, Deli Serdang dan Serdang Bedagai
Dialek Asahan : dituturkan di sepanjang distrik pesisir kabupaten Asahan
Dialek Kualuh : dituturkan di sepanjang distrik aliran hulu hingga hilir sungai Kualuh kabupaten Labuhanbatu Utara
Dialek Bilah : dituturkan di sepanjang distrik hilir aliran sungai Bilah kabupaten Labuhanbatu
Dialek Panai : dituturkan di sepanjang distrik hilir aliran sungai Barumun kabupaten Labuhanbatu
Dialek Kotapinang : dituturkan di sepanjang distrik aliran sungai Barumun kabupaten Labuhanbatu Selatan
Dialek Melayu Riau : dituturkan di area Kepulauan Riau
Dialek Riau Kepulauan dan sejumlah kawasan di Riau Daratan dituturkan sama laksana Dialek Johor.
Dialek Melayu Riau Daratan : terbagi atas sejumlah dialek lainnya tergantung distrik (Siak, Rokan, Inderagiri, Kuantan)
Dialek Anak Dalam : bisa jadi termasuk kumpulan Kubu, Talang Mamak di area Riau dan Jambi
Dialek Melayu Jambi : dituturkan di provinsi Jambi
Dialek Melayu Bengkulu : dituturkan di kota Bengkulu
Dialek Lampung : dituturkan di Lampung
Dialek Melayu Palembang : dituturkan di kota Palembang dan Kota Muara Enim dan sekitarnya
Dialek Bangka-Belitung : dituturkan di provinsi Bangka-Belitung tidak banyak perbedaan antara pengucapan kata sebagai misal kata "APA-Ind" bangka memakai "APE" seperti menyampaikan kata "PEPES" dan Belitung "APE" seperti menyampaikan kata "Remang".
Dialek Melayu Indonesia di Regional Kalimantan[sunting | sunting sumber]
Dialek Melayu Pontianak : dituturkan di kabupaten Pontianak, Kabupaten Kubu Raya dan kota Pontianak, Kalimantan Barat
Dialek Melawi (MLW): kabupaten Melawi dan sekitarnya, Kalimantan Barat[9]
Dialek Landak : kabupaten Landak dan sekitarnya, Kalimantan Barat[10]
Dialek Melayu Sambas : dituturkan di kabupaten Sambas, Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang dan sekitarnya, Kalimantan Barat
Dialek Melayu Sanggau : dituturkan di kabupaten Sanggau[11]
Dialek Melayu Sintang : dituturkan di kabupaten Sintang[12]
Dialek Ketapang : dituturkan di kabupaten Ketapang dan sekitarnya, Kalimantan Barat terdiri 2 logat kota Ketapang dan Balai Berkuak.[13][14][15]
Dialek Berau : dituturkan di kabupaten Berau dan sekitarnya, Kalimantan Timur
Dialek Kutai : digunakan di kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur
Dialek Melayu Indonesia Indonesia Timur[sunting | sunting sumber]
Dialek Loloan : dituturkan di kota Negara, Jembrana, Bali.
Bahasa kerabat Melayu[sunting | sunting sumber]
"Bahasa kerabat" ialah bahasa-bahasa beda yang serupa dengan Bahasa Melayu, tetapi masih terdapat perbedaan pendapat tentang soal itu. Mereka ialah
Bahasa Lampung Api (ljp) di Lampung
Bahasa Lampung Nyo (abl) di Lampung
Bahasa Minangkabau (min) di Sumatera Barat
Bahasa Banjar (bjn) di Kalimantan Selatan
Bahasa Kedayan (kxd) (Suku Kedayan) di Brunei, Sarawak
Dialek Melayu Kedah (meo) (Melayu Satun)
Dialek Melayu Pulau Kokos (coa)
Dialek Melayu Pattani (mfa)
Dialek Melayu Sabah (msi)
Dialek Melayu Bukit(Bahasa Bukit) (bvu) (Suku Dayak Bukit) di Kalimantan Selatan
Bahasa Serawai (srj) di Bengkulu
Bahasa Rejang (rej) di Rejang Lebong, Bengkulu
Bahasa Lebong di Lebong, Bengkulu
Bahasa Rawas (rws) di Musi Rawas, Sumatera Selatan
Bahasa Penesak (pen) di Tanjung Batu & Sekitarnya, Pedamaran (Marga Danau), Sumatera Selatan
Bahasa Komering di Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
Bahasa Enim (eni)
Bahasa Musi (mui)
Bahasa Kaur (vkk)
Bahasa Kerinci/(Kerinci-Sakai-Talang Mamak)(vkr)
Bahasa Kubu (kvb)
Bahasa Lematang (lmt)
Bahasa Lembak (liw)
Bahasa Lintang (lnt)
Bahasa Lubu (lcf)
Bahasa Loncong/Orang Laut (lce)
Bahasa Sindang Kelingi (sdi)
Bahasa Semendo (sdd)
Bahasa Rawas (rws)
Bahasa Ogan (ogn)di Ogan Ilir, Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
Bahasa Pasemah ( pse) di Sumatera Selatan
Bahasa Suku Batin [sbv] di Jambi
Bahasa Kutai di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Dialek Tenggarong - Melayu Kutai (vkt)
Dialek Kota Bangun - Melayu Kutai (mqg)

Bahasa Melayu Kreol
Bahasa Melayu telah lama dikenal sebagai bahasa antarsuku bangsa terutama di Indonesia. Dalam perkembangannya khususnya kawasan-kawasan berpenduduk bukan Melayu dan memiliki bahasa masing-masing, bahasa Melayu merasakan proses pidginisasi dengan berbaurnya sekian banyak  unsur bahasa setempat ke dalam bahasa Melayu dan sebab dituturkan oleh anak-anaknya, bahasa Melayu merasakan proses Kreolisasi.[8] Bahasa Melayu, terutama di Indonesia Timur diperkenalkan pula oleh semua misionaris asal Belanda guna kepentingan penyebaran agama Kristen.
Di pulau Jawa, khususnya di Jakarta, bahasa Melayu merasakan proses kreolisasi yang bagian dasar bahasa Melayu Pasar tercampur dengan sekian banyak  bahasa di sekelilingnya, terutama bahasa Tionghoa, bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Bugis, bahkan bagian bahasa Belanda dan bahasa Portugis. Melayu dalam format kreol ini tidak sedikit dijumpai di Kawasan Indonesia Timur yang terbentang dari Manado sampai Papua.
Bentuk Melayu Kreol itu antara beda :
Dialek Melayu Jakara bahasa Betawi : dituturkan di Jakarta dan sekitarnya
Dialek Melayu Indonesia Peranakan: tidak sedikit dituturkan oleh kalangan orang Tionghoa di pesisir Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Dialek Melayu Manado (bahasa Manado): digunakan sebagai lingua franca di Sulawesi Utara
Dialek Melayu Maluku Utara (max): digunakan di nyaris seluruh Maluku Utara
Dialek Melayu Bacan (btj): digunakan di area pulau Bacan, Maluku Utara
Dialek Melayu Ambon : digunakan sebagai bahasa ibu untuk warga kota Ambon, dan bahasa kedua untuk warga sekitarnya
Dialek Melayu Banda : bertolak belakang dengan Melayu Ambon, dan dipakai di area Kepulauan Banda, Maluku
Dialek Melayu Larantuka : digunakan di kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur
Dialek Melayu Kupang : menjadi lingua franca di distrik Kupang dan beberapa Pulau Timor
Dialek Melayu Papua : Papua, Papua Barat
Dialek Melayu Makassar (mfp) : Sulawesi Selatan
Dialek luar Indonesia[sunting | sunting sumber]
Dialek-dialek bahasa Melayu di Malaysia ialah seperti berikut:
Dialek Utara (Kedah, Perlis, Pulau Pinang & Perak Utara) " meo ": dituturkan di negara unsur Kedah, Pulau Pinang, Perlis dan bagian unsur utara negara unsur Perak. Terbahagi kepada sejumlah sub-dialek laksana Perlis, Pulau Pinang, Kedah Utara dan Kedah Hilir. Dialek yang dituturkan oleh warga di Kedah Timur menampakkan tidak sedikit persamaan dengan logat Kelantan dan Pattani, logat ini dikenali sebagai logat Kedah Hulu.
Dialek Kelantan : dituturkan di negara unsur Kelantan dan wilayah Besut, Terengganu. Penduduk di sejumlah buah wilayah di Kedah laksana Baling, Sik dan Kuala Nerang bertutur di dalam logat yang menampakkan tidak sedikit persamaan dengan Dialek Kelantan. Dialek Kelantan adalahsub-dialek Dialek Pattani ataupun Yawi.
Dialek Terengganu "zlm-coa" : dituturkan di negara unsur Terengganu kecuali wilayah Besut dan beberapa negeri Pahang di pesisiran pantai wilayah Kuantan. Catatan kesatu bahasa Melayu di Terengganu tertulis pada Prasasti Terengganu yang terdaftar pada tahun 1326 M atau 1386 M.
Dialek Perak - Dialek ini terbahagi untuk tiga pecahan kecil:
Dialek Perak Tengah : dituturkan di unsur tengah negara unsur Perak meliputi wilayah Perak Tengah dan Kuala Kangsar.
Dialek Perak Selatan : dituturkan di bagian unsur selatan negara unsur Perak meliputi wilayah Hilir Perak, Batang Padang, Kampar dan sebagian wilayah Manjung dan Kinta. Dialek ini memiliki pengaruh logat Selangor dan Johor.
Dialek Perak Timur: dituturkan di bagian unsur timur laut negara unsur Perak yakni Lenggong, Grik dan Kroh (daerah Hulu Perak) yang bersempadan dengan negara unsur Kedah dan Kelantan serta provinsi Yala dan Narathiwat di kerajaan Thailand. Dialek yang dituturkan mempunyai gabungan dialek Utara, logat Perak dan logat Kelantan/Pattani.
Dialek Selangor - KL : dituturkan di negara unsur Selangor, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Putrajaya serta kota-kota besar di Semenanjung Malaysia.
Dialek Negeri Sembilan : dituturkan di negara unsur Negeri Sembilan dan area Taboh Naning, Melaka.
Dialek Malaka : dituturkan di negara unsur Melaka kecuali area Taboh Naning.
Dialek Johor - Riau : dituturkan di negara unsur Johor dan unsur selatan Pahang.
Dialek Pahang - Negara unsur Pahang kaya dengan beragam jenis dialek wilayah yang dituturkan di daerah-daerah di mana Sungai Pahang mengalir:-
Hulu Sungai Pahang : Dialek Jerantut, Lipis, Bentong dan Raub (dituturkan dengan cepat dari sisi kelajuan percakapan).
Pertengahan Sungai Pahang : Dialek Temerloh dan Maran (dituturkan secara sederhana dari sisi kelajuan percakapan).
Hilir Sungai Pahang : Dialek Rompin dan Pekan (dituturkan dengan perlahan dari sisi kelajuan percakapan).
Dialek Sarawak "zlm-sar" : dituturkan di negara unsur Sarawak kecuali di divisi Limbang yang menggunakan logat Brunei. Dialek Sarawak bisa dipecahkan kepada sejumlah sub-dialek mengikut divisi administratif yakni Bintulu, Kuching, Miri, Samarahan, Saribas, Sibu dan Sri Aman.
Dialek Labuan - dituturkan di Persekutuan Labuan (sejenis dialek gabungan antara bahasa Kedayan dan bahasa Melayu Brunei).
Dialek Sabah "msi" - Negara unsur Sabah mempunyai sejumlah jenis logat Melayu yaitu:-
Dialek Melayu Sabah - dituturkan di semua negara unsur Sabah dan merupakan logat utama di negera unsur tersebut.
Dialek Kokos / Cocos - dituturkan oleh orang Melayu keturunan Kokos / Cocos di Tawau, Lahad Datu, Kunak, Sandakan dan Kepulauan Cocos (Keeling), distrik Australia.
Dialek Baba - Sejenis dialek gabungan antara bahasa Melayu dan logat Hokkien. Dialek ini terbahagi untuk tiga pecahan kecil iaitu:-
Dialek Baba Melaka - dituturkan oleh kaum Baba dan Nyonya di negara unsur Melaka. Ia merupakan logat asal untuk dialek Melayu Baba.
Dialek Baba Pulau Pinang - dituturkan oleh kaum Baba dan Nyonya di negara unsur Pulau Pinang.
Dialek Baba Singapura - dituturkan oleh kaum Baba dan Nyonya di Republik Singapura.
Dialek Johor - Riau pun dituturkan di Republik Singapura dan Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, Indonesia.
Dialek-dialek bahasa Melayu di Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand ialah seperti berikut:
Dialek Singapura : dituturkan di Republik Singapura. Dialek ini adalahpecahan dari logat Johor-Riau.
Dialek Brunei : dituturkan di Kerajaan Brunei Darussalam serta unsur pedalaman, negara unsur Sabah dan Wilayah Persekutuan Labuan, Malaysia.
Dialek Patani : dituturkan di provinsi Pattani, Narathiwat, Yala dan Songkhla di Kerajaan Thailand.
Dialek Melayu Bangkok : Dituturkan oleh masyarakat Melayu di area Bangkok, agak bertolak belakang dengan logat di bahagian Selatan Thailand.
Kini, banyak sekali angkatan baru telah kehilangan upaya guna bercakap dalam logat ibu dan bapak mereka sebab adanya penerapan bahasa Melayu ketetapan dalam edukasi negara. Karena terdapat perbedaan logat yang amat nyata, kadang kala penutur bahasa Melayu dari logat tertentu tidak bisa mamahami penutur logat yang lain khususnya sekali logat Kelantan, Sarawak dan Sabah.
Di luar distrik tersebut, ada pula logat Srilangka yang perlahan-lahan mulai punah, serta logat Afrika Selatan, yang digunakan oleh pengekor Syekh Yusuf yang dilemparkan ke Cape Town.
Para-Malay[sunting | sunting sumber]
Bahasa Duano' [dup] (Malaysia Barat)
Bahasa Minangkabau [min] (Indonesia, Sumatera Barat)
Bahasa Pekal [pel] (Indonesia, Sumatera Selatan)
Bahasa Urak Lawoi' [urk] (Thailand)
Bahasa Muko-Muko [vmo] (Indonesia, Sumatera, Bengkulu : Kabupaten Mukomuko)
Bahasa Negeri Sembilan [zmi] (Malaysia Barat, Negeri Sembilan)
Melayu-Aborigin[sunting | sunting sumber]
Bahasa Jakun [jak] (Suku Jakun, Malaysia Barat)
Bahasa Orang Kanaq [orn] (Orang Kanaq, Malaysia Barat)
Bahasa Orang Seletar [ors] (Orang Seletar, Malaysia Barat)
Bahasa Temuan [tmw] (Suku Temuan, Malaysia Barat)
Dayak Melayik[sunting | sunting sumber]
Malayan
Malayic-Dayak (10)
Ibanic (6)
Bahasa Balau [BUG] (Sarawak)
Bahasa Iban [IBA] (Sarawak, Brunei, Kalimantan Barat)
Bahasa Milikin [MIN] (Sarawak))
Bahasa Mualang [MTD] (Suku Dayak Mualang, Sekadau, Kalimantan Barat)
Bahasa Seberuang [SBX] (Suku Dayak Seberuang, Sintang, Kalimantan Barat)
Bahasa Sebuyau[SNB] (Sarawak))
Bahasa Keninjal [KNL] ( Melawi, Kalimantan Barat)
Bahasa Kendayan [KNX] (Sanggau Ledo, Bengkayang, Kalimantan Barat)
Bahasa Selako [SKL] (Pemangkat, Sambas, Kalimantan Barat)
Bahasa-bahasa Malayic Dayak [XDY] (Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah)
Bahasa Balai Riam : Kabupaten Sukamara
Bahasa Bulik : Kabupaten Lamandau
Bahasa Waringin : Kabupaten Kotawaringin Barat
Bahasa Pembuang : Kabupaten Seruyan
Kota Singkawang
Kabupaten Bengkayang
Kabupaten Sintang
Kabupaten Kapuas Hulu
Bahasa Kayong : Kayong Utara, Ketapang
Kursus Komputer bersertifikat. Lembaga kursus Citra Telematika menyelenggarakan :

1. Aplikasi Perkantoran
2. Desain Grafis
3. Jaringan Komputer
4. Robotika
5. Pemasaran Digital
Kursus Komputer di Majalengka
Citra Telematika - Kursus Komputer di Majalengka

Jl. Raya Timur No. 65, Ciborelang, Jatiwangi
Kab. Majalengka
(0233) 8281236 | 085216667297