Kursus Komputer Majalengka
Sejarah Kota Bandung

Sejarah Kota Bandung secara resmi dibuka pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, pada abad ke-19. Kota Bandung didirikan oleh dan atas kehendak (kebijakan) Bupati Bandung ke-6, R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829).[1] Akan namun proses pendiriannya dipercepat oleh perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, Herman Willem Daendels (1808-1811) dengan surat keputusan (besluit) pada tanggal 25 September 1810, sampai-sampai tanggal 25 September dirasakan sebagai hari jadi kota Bandung".[1]
Kumpulan isi :
1.Bandung Purba
  1.1. Manusia Purba Cekungan Bandung
2.Era Kerajaan Pajajaran
3.Era Kesultanan Mataram
4.Kabupaten Bandung
  4.1. Tanam Paksa Kopi di Priangan
5.Berdirinya Kota Bandung
6.Catatan
7.Referensi
8.Pranala luar

Bandung Purba[sunting | sunting sumber]
Pada Zaman Tersier Kala Oligosen (27 juta tahun yang lalu), pulau Jawa kini ini masih adalahbagian dari laut dangkal yang memanjang dari Rajamandala sampai Pelabuhan Ratu. Bukti tentang hal ini ialah ditemukannya terumbu karang purbakala di perbukitan kapur area karst Citatah, Rajamandala. Proses pelantikan kerak bumi sekitar jutaan tahun menyusun lipatan, patahan, dan retakan, sampai-sampai pantai unsur utara Pulau Jawa sedang di titik Pangalengan.[2] Bukit-bukit kapur yang terangkat tersebut juga merasakan proses pelarutan dan karstifikasi, sampai-sampai terbentuk saluran-saluran air yang terus membesar menjadi sungai bawah tanah dan goa-goa, antara beda Gua Sanghyang Poek, Gua Bancana dan Gua Pawon.
Sekitar empat juta tahun kemudian (Kala Pliosen) terjadi akitivitas vulkanik di unsur selatan Cimahi. Di tempat tersebut muncul sejumlah gunung laksana Gunung Lagadar, Gunung Selacau, Gunung Lalakon, Gunung Paseban, Gunung Singa, Gunung Pasir Pancir dan lain-lain.
Lama kelamaan, kegiatan vulkanik bergeser ke arah utara. Pada Kala Pleistosen Akhir (sekitar 500.000 tahun yang lalu), Gunung Sunda purba di bagian unsur utara Bandung kini meletus berkali-kali, sampai-sampai mengambrukkan tubuhnya dan menyusun Kaldera Sunda yang dipagari jajaran perbukitan di Bandung Utara dan Timur. Bentukan alam berikut yang adalahcikal akan wilayah Cekungan Bandung sekarang. Pada kala yang sama terjadi Patahan Lembang yang memanjang dari arah barat (Cisarua, Lembang) ke unsur timur (Gunung Manglayang).

Sekitar 125.000 tahun yang kemudian terjadi letusan Gunung Tangkuban Parahu berkali-kali. Material letusannya sebagian memenuhi Patahan Lembang, dan beberapa lagi menahan sungai Ci Tarum purba di unsur utara Padalarang sampai-sampai terbentuklah Situ Hyang atau Danau Bandung Purba di Cekungan Bandung yang terbentang dari Cicalengka di unsur timur sampai Padalarang di barat dan dari Bukit Dago di unsur utara sampai Soreang di selatan.
Letusan berikutnya terjadi selama 55.000 tahun yang lalu, material letusannya mengalir ke selatan, menutupi distrik yang paling luas dan mengasingkan Danau Purba Bandung menjadi dua bagian, yakni Danau Bandung Purba Barat dan Danau Bandung Purba Timur.
Pada ketika Bandung menjadi telaga yang paling besar, air genangannya mulai mengikis tebing di perbukitan sisi barat. Gempa bumi di jalur patahan yang yang tidak sedikit mengiris Cekungan Bandung telah menyerahkan jalan untuk air untuk menjebol Danau Bandung Purba. Pelepasan air telaga terjadi pada saat menginjak celah-celah antara Pasir Kiara dan Pasir Larang sampai akhirnya Situ Hyang menciut di sebuah lembah sempit yang dikenal dengan sebutan Cukang Rahong guna Danau Bandung Purba Barat, dan Curug Jompong guna Danau Bandung Purba Timur.[3]
Manusia Purba Cekungan Bandung[sunting | sunting sumber]
Tangkuban Parahu disaksikan dari Pelantungan (litografi menurut lukisan J. S. G. Gramberg pada tahun 1865–1872)


Cekungan Bandung telah dihuni oleh insan sekurang-kurangnya semenjak 9000 tahun yang lalu. Pada akhir tahun 2003, ditemukan empat fosil kerangka utuh insan purba jenis Homo sapiens di Gua Pawon (utara Padalarang), yang diduga berusia 9000 tahun.[4]
Gua Pawon adalahgua kesatu di Pulau Jawa unsur barat, sebagai lokasi ditemukannya kerangka insan prasejarah. Berdasarkan keterangan dari arkeolog Perancis, Jean-Christophe Galipaude (Agustus 2009), kerangka ini sangat barangkali adalahkerangka insan tertua yang pernah ditemukan di Indonesia unsur barat. Di Gua Pawon ditemukan pun 22.000 artefak berupa gelang-gelang dari batu gelas (obsidian), kapak, dan ragam peralatan dari batu obsidian. Goa itu diduga menjadi lokasi tinggal sekaligus pekuburan insan purba.
Di samping di distrik barat (Gua Pawon), permukiman insan Purba di dekat Cekungan Bandung pun ada di distrik utara, unsur timur laut dan unsur selatan Cekungan Bandung. Hal ini diperlihatkan dengan penemuan sekian banyak  artefak purba, laksana kapak, mata panah dan mata tombak yang tercipta dari obsidian, mata tombak perunggu, cetakan tanah liat guna pengecoran dan pecahan keramik tembikar purba. Artefek-artefak tersebut ditemukan antara beda di Dago Pakar, Pasir Kiara Janggot, Pasir Panyandaan, Darmaga, Gunung Singa dan Gunung Sadu.

Era Kerajaan Pajajaran[sunting | sunting sumber]
Pada abad ke-2 di pantai barat distrik yang kini disebut Jawa Barat berdiri Kerajaan Salakanagara (kerajaan kesatu di Jawa Barat) yang lantas menjadi distrik Kerajaan Tarumanagara yang menguasai distrik barat pulau Jawa pada abad ke-4 sampai abad ke-7 M. Raja Tarumanagara, Sri Maharaja Purnawarman (395-434) sukses menguasai semua wilayah Jawa Barat.
Pada tahun 669 M, Sri Maharaja Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa, menggantikan tahta mertuanya yakni Linggawarman, raja Tarumanagara yang terakhir. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah paling menurun, Tarusbawa hendak mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di Sundapura (kota Sunda) bekas ibukota Tarumanagara. Pada tahun 670 M, Tarusbawa mengubah nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda.
Lukisan Prabu Siliwangi di Keraton Kasepuhan, Cirebon

Wretikandayun, raja kesatu di Kerajaan Galuh yang sebelumnya sedang di bawah dominasi Tarumanagara, tidak mengamini penggantian tersebut. Dengan sokongan Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, Wretikandayun menuntut untuk Tarusbawa supaya distrik Tarumanagara dibagi dua. Bagi menghindari perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Pada tahun 670 M, distrik Tarumanagara dibagi menjadi dua kerajaan, yakni Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.[5] Berdasarkan peninggalan sejarah laksana prasasti dan naskah kuno, ibukota Kerajaan Sunda sedang di Pakuan (sekarang Bogor), sementara ibukota Kerajaan Galuh ialah Kawali (sekarang Ciamis).
Raja Galuh, Prabu Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi (1482-1521) sukses menyatukan pulang kerajaan Galuh dan Sunda menjadi Kerajaan Sunda Galuh yang beribukota di Pakuan Pajajaran atau Pajajaran. Lokasinya berada di distrik Bogor, Jawa Barat sekarang. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kelaziman menyebut nama kerajaan dengan nama ibukotanya sampai-sampai Kerajaan Sunda Galuh tidak jarang disebut sebagai Kerajaan Pajajaran.
Pada tahun 1579, kerajaan Pajajaran ditaklukkan oleh Kesultanan Banten di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin (1552-1570). semenjak itu, Kerajaan Sumedang Larang (didirikan oleh Prabu Tajimalela) menjadi penerus kerajaan Pajajaran. Ketika tersebut Sumedang Larang diperintah oleh Prabu Geusan Ulun (1579-1601). Wilayah kekuasaannya mencakup sebagian besar distrik bekas Kerajaan Pajajaran (seluruh Tatar Sunda kecuali Banten, Cirebon dan Galuh), dengan pusat pemerintahan di Kutamaya (suatu lokasi yang terletak sebelah Barat kota Sumedang sekarang). Pada masa-masa itu, distrik yang kini ditempati Kota Bandung adalahwilayah yang dinamakan Ukur atau Tatar Ukur, yang adalahbagian dari Kerajaan Timbanganten, sebuah kerajaan di bawah dominasi kerajaan Sumedang Larang.
Kerajaan Sumedang Larang berambisi untuk membina kembali kejayaan Kerajaan Sunda, namun kekuatannya melemah sesudah berperang dengan Kesultanan Cirebon. Di samping ancaman dari Kesultanan Cirebon dari arah timur, posisi Sumedang Larang pun terancam oleh Kesultanan Banten dari arah barat.
Era Kesultanan Mataram[sunting | sunting sumber]

Perangko bergambar Sultan Agung dari Mataram

Di bawah kepemimpinan Sultan Agung (1613-1645), Kesultanan Mataram mencapai waktu keemasan. Pada mula abad ke-17, Mataram di telah menjadi kerajaan yang besar dan powerful di Jawa dan Nusantara pada ketika itu. Namun di pantai barat pulau Jawa ada kekuatan yang belum sukses ditaklukkan Mataram, yakni Kesultanan Banten.
Pada tahun 1619, Perusahaan Dagang Belanda di Hindia Timur (Verenigde Oost-Indische Compagnie, VOC) yang sebelumnya berkedudukan di Ambon sukses merebut Jayakarta di unsur barat pulau Jawa yang belum ditaklukkan Mataram, lantas mengubah namanya menjadi Batavia dan bermarkas di sana. Adanya VOC di Batavia mempersulit Mataram guna menaklukkan Banten.
Sumedang Larang, yang pada waktu tersebut diperintah oleh Raden Suriadiwangsa (1601–1625) atau yang dijuluki Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata (Rangga Gempol I), anak tiri Geusan Ulun dari Ratu Harisbaya, merasa cemas terhadap ancaman perluasan Kesultanan Banten ke arah unsur timur dalam rangka menguasai distrik bekas Pajajaran. Hal tersebut mendorong Suriadiwangsa berangkat ke Mataram guna meminta perlindungan. Pada tahun 1620, Sumedang Larang bergabung dengan kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung. Sultan Agung mengubah nama Sumedang Larang menjadi Priangan yang terdiri dari distrik Sumedang Larang, Pamanukan, Ciasem, Kawung Sukapura, Ukur (Bandung), Limbangan dan Cianjur. Daerah Priangan menjadi Kabupaten Wedana yang dipantau oleh Bupati Wedana (Kepala Bupati), dan Pangeran Suriadiwangsa menjadi Bupati Sumedang yang kesatu merangkap Bupati Wedana Priangan (1620-1625).
Pada tahun 1624 Sultan Agung menyuruh Rangga Gempol guna merebut distrik Sampang di Madura. Setelah sukses menaklukkan Sampang, Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata wafat di Mataram. Jabatan Bupati Wedana Priangan di berikan kepada saudaranya, Rangga Gede (1625-1633).
Ketika beberapa pasukan Kabupaten Sumedang Larang berangkat ke Sampang, pasukan Kesultanan Banten menyerang Kabupaten Sumedang. Rangga Gede tidak sanggup menahan serangan tersebut dan melarikan diri. Sultan Agung murka dan menilai bahwa Pangeran Rangga Gede tidak dapat mengendalikan pemerintahan. Sebagai sanksinya, pangkat Bupati Wedana Pangeran Rangga Gede dicopot, dan Rangga Gede ditawan di Mataram. Sebagai penggantinya, pangkat Bupati Wedana Priangan diserahkan kepada Dipati Ukur.
.
Kabupaten Bandung[sunting | sunting sumber]
Sejak penahanan terhadap Dipati Rangga Gede, bupati wedana yang mengawasi wilayah Priangan ialah Dipati Ukur (1625-1629), yang berasal dari Tatar Ukur (VOC pada tahun 1629 sudah menulis nama Sumedang dan Ukur sebagai unsur dari wilayah Priangan dan tahun 1640-an menyebut wilayah Ukur sebagai Nagorij Bandong dan lantas West Oedjoeng Beroeng, sementara masyarakat Sunda menyebutnya Tatar Ukur[6]).

Pengepungan Batavia oleh Pasukan Mataram

Pada tahun 1628, Sultan Agung memerintahkan supaya Dipati Ukur bersama-sama dengan pasukan Mataram menyerang VOC di Batavia. Kurangnya kerjasama mengakibatkan serangan tersebut mengalami kegagalan. Dalam serangan kedua (1629), Dipati Ukur menampik ikut serta. Kegagalan serangan kesatu diperbanyak keengganan Dipati Ukur turut serta dalam serangan kedua menciptakan Mataram menilai tindakan itu patut diberi hukuman. Dipati Ukur dipanggil ke Mataram, tetapi dia tidak mengisi panggilan tersebut. Bersama pasukannya, dia tetap tingal di ibukota Ukur yang terletak di Gunung Lumbung (sekarang Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung) seraya mengantisipasi kedatangan pasukan Mataram. Tindakan ini dirasakan Mataram sebagai penentangan yang mesti ditumpas. Setelah terjadi sejumlah kali pertempuran, pada tahun 1632 Dipati Ukur tertangkap di Gunung Lumbung dan kesudahannya dihukum pancung di Mataram.
Pada ketika Sumedang dipimpin oleh putera Rangga Gede yang mempunyai nama Raden Bagus Weruh atau tidak jarang disebut pun Pangeran Dipati Rangga Gempol II (1633-1656), Mataram menyelenggarakan reorganisasi untuk mengatur kembali distrik Priangan. Hal ini tertuang dalam Serat Piyagem (Surat Keputusan) Sultan Agung pada tanggal 9 Muharam tahun Alip (bertepatan dengan tanggal 20 April 1641), yang mengandung pembentukan tiga kabupaten baru berikut pelantikan bupatinya. Dengan demikian, di bekas kerajaan Sumedang Larang ada empat kabupaten tergolong bupatinya, yakni Sumedang (Rangga Gempol II), Sukapura (Tumenggung Wiradadaha), Bandung (Tumenggung Wiraangunangun) dan Parakanmuncang (Tumenggung Tanubaya).[7] Berdasarkan keputusan tersebut, tanggal 20 April diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Bandung.
Rangga Gempol II merasa kecewa atas kepandaian Sultan Agung tersebut, karena wilayah dominasi Sumedang menjadi bekurang. Kekecewaan ini makin meningkat ketika Sultan Agung digantikan oleh puteranya, Sunan Amangkurat I. Amangkurat I menerbitkan dua kepandaian penting berhubungan wilayah Priangan. Pertama, Jabatan Bupati Wedana dihapuskan. Kedua, distrik Mataram Barat dipecah menjadi 12 ajeg (setara dengan kabupaten). Dengan begitu, status Bupati Sumedang menjadi setara dengan bupati-bupati lain, dan wilayah dominasi Sumedang menjadi lebih kecil lagi. Sebagai protes atas kepandaian tersebut, Rangga Gempol mengundurkan diri sebagai bupati, dan sebagai penggantinya ditunjuk puteranya, Rangga Gempol III yang bergelar Pangeran Panembahan (1656-1705).
Tumenggung Wiraangunangun memerintah di Kabupaten Bandung antara 1641-1681. Wilayah pemerintahannya meliputi sejumlah wilayah antara beda Tatar Ukur, termasuk wilayah Timbanganten, Kahuripan, Sagaraherang, dan beberapa Tanahmedang. Hingga berakhirnya dominasi VOC akhir tahun 1779, Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak, yang sekarang mempunyai nama Citeureup, sebuah wilayah di sekitar Sungai Citarum, di dekat Dayeuh Kolot. Selama tersebut Kabupaten Bandung diperintah secara turun-temurun oleh enam orang bupati.
Setelah Sultan Agung meninggal dunia pada tahun 1645, Mataram berangsur-angsur menjadi lemah dampak kemelut internal yang berlarut-larut dalam kerajaan dan serangan dari luar. VOC campur-tangan dalam kemelut ini sehingga tidak banyak demi tidak banyak wilayah Mataram jatuh ke dalam dominasi VOC. VOC mendapat  wilayah Priangan Barat dari Mataram (Sultan Amangkurat II) dalam Perjanjian 19-20 Oktober 1677 sebagai imbalan atas pertolongan VOC memadamkan penentangan Trunojoyo. Sedangkan distrik Priangan Timur dan Cirebon di berikan Mataram untuk VOC dalam Perjanjian 5 Oktober 1705 sebagai imbalan dari Pangeran Puger (Pakubuwono I) sebab membantu merebut tahta Mataram dari Sunan Mas (Amangkurat III).[8]
Di bawah dominasi VOC, Bupati Bandung dan bupati-bupati lainnya di Priangan tetap berkedudukan sebagai penguasa tertinggi di Kabupaten, tanpa ikatan birokrasi dengan VOC. Sistem pemerintahan kabupaten tidak merasakan perubahan, tetapi VOC menuntut supaya para bupati mengakui dominasi VOC, dengan garansi menjual hasil-hasil bumi tertentu secara khusus kepada VOC. Sebagai pengawas (opzigter) wilayah Cirebon-Priangan, VOC mengusung Pangeran Arya Cirebon.
Tanam Paksa Kopi di Priangan


Pekerja di Priangan sedang menumbuk biji kopi
Budidaya kopi di Jawa untuk kebutuhan pemasaran di pasaran dunia sudah dibuka sejak mula abad ke-18.[9] Pada masa-masa itu, VOC menjelajah menggali barang-barang kolonial di sekian banyak  bagian kepulauan Nusantara. Tanaman kopi yang didatangkan dari India Selatan ternyata bisa tumbuh baik di wilayah pedalaman markas besar kolonial yang berbukit-bukit. Para saudagar VOC tersebut mendorong budidaya tumbuhan asing ini. Pada awalnya mereka membeli semuanya hasil panen masyarakat petani, namun apa yang tadinya bersifat sebagai transaksi komersial segera pulang menjadi penyetoran kopi secara paksa dengan harga yang jauh di bawah harga pasar.
Tanam paksa kopi di Priangan (Preangerstelsel) terjadi pada kurun masa-masa 1720-1830, satu abad sebelum pemerintah Hindia Belanda di bawah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) pada tahun 1830, sebab Hindia Belanda merasakan krisis finansial dampak Perang Diponegoro (1825-1830).
Salah satu keharusan utama semua Bupati di Priangan terhadap VOC ialah melaksanakan penanaman wajib tumbuhan kopi, dan memberikan hasilnya ke VOC. Dalam sistem ini, baik bupati maupun rakyat (petani) mendapat bayaran atas penyerahan kopi yang besarnya ditentukan oleh VOC. Para bupati mesti memelihara ketenteraman dan ketertiban wilayah kekuasaannya, dan jangan mengusung atau memecat pegawai bawahan bupati tanpa pertimbangan pengawas wilayah Cirebon-Priangan.
Berdirinya Kota Bandung[sunting | sunting sumber]

Herman Willem Daendels
Pada bulan Desember 1799, VOC merasakan kebangkrutan sampai-sampai seluruh aset dan kekuasaannya dipungut alih oleh Republik Batavia (1795-1806). Pada tahun 1806, Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte menegakkan Kerajaan Belanda sebagai penerus Republik Batavia, dengan mengusung adiknya, Louis Napoleon (Lodewijk Napolen), sebagai raja.
Untuk menjaga wilayah koloninya dari ancaman Inggris, Louis Napoleon mengusung seorang yang kawakan dalam militer mempunyai nama Herman Willem Daendels sebagai Gubernur jenderal Hindia Belanda antara tahun 1808-1811, dengan tujuan utama menjaga Pulau Jawa dari serangan Inggris. Daendels berasumsi bahwa mobilisasi darat lebih cocok untuk menjaga Jawa dari serangan Inggris, karena Inggris memiliki kekuatan armada laut yang unggul pada ketika itu.[10] Oleh karena tersebut salah satu misinya ialah membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang menghampar menghubungkan Anyer di ujung barat Pulau Jawa sampai Panarukan di ujung unsur timur Jawa sepanjang 1000 km.

Jalan raya Pos pada masa Hindia Belanda
Jalan Raya Pos dominan  besar, tidak melulu terhadap pertumbuhan pulau Jawa secara umum namun pun kota-kota yang dilaluinya.[11] Bandung di antara contohnya. Pada awalnya, Jalan Raya Pos berjarak 11 km di unsur utara Krapyak, ibukota Kabupaten Bandung ketika itu. Daendels memerintahkan untuk Bupati Bandung ke-6, R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829)[12] untuk membina ibukota Bandung yang baru di dekat jalan tersebut. Ucapan Daendels yang familiar adalah: "Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd" (Usahakan, bila saya datang pulang ke sini, suatu kota sudah dibangun).

Jalan Raya Pos yang melewati sebelah barat Alun-Alun Bandung antara tahun 1920-1940
Wiranatakusumah II lantas memilih suatu lokasi di sekitar sumber mata air yang mempunyai nama Sumur Bandung. Dalam Bahasa Sunda, Sumur Bandung berarti sumur yang berpasangan atau berhadapan (dari kata bandungan). Kedua sumur itu berada di ambang barat Sungai Cikapundung. Satu sumur terletak di Bale Sumur Bandung atau Gedung PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten, Jalan Asia Afrika. Sedangkan sumur lainnya sedang di bawah bangunan bekas perumahan pertokoan Miramar, Alun-alun Bandung.
Sesuai dengan konsep tata ruang tradisional, Bupati R.A. Wiranatakusumah II dan sebanyak rakyatnya membina Pendopo di sisi unsur selatan Alun-alun Bandung, menghadap ke arah Gunung Tangkuban Parahu yang adalahsimbol keyakinan sejarah masyarakat Sunda. Sedangkan Masjid Agung Bandung (sekarang Masjid Raya Bandung) di bina di sisi barat alun-alun, dan pasar terletak di sisi timur.
Dengan suatu besluit pemerintahan Hindia Belanda tanggal 25 September 1810, Kota Bandung ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Bandung, sampai-sampai tanggal 25 September diputuskan sebagai hari jadi Kota Bandung.
Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874) yang dikenal dengan julukan Dalem Bintang, ibukota Karesidenan Priangan dialihkan dari Cianjur ke Bandung menurut besluit Nomor 18 tanggal 17 Agustus 1864. Rumah Residen Priangan yang terletak di Residentsweg (Jalan Pasar Baru, kini Jalan Otto Iskandar Dinata) di bina tahun 1867, sementara Kantor Residen Priangan di bina di sisi unsur timur Hotel Post Road yang lantas menjadi Hotel Savoy Homann.
Pada tanggal 1 April 1906 Gubernur Jenderal J.B. Van Heutz dengan ordonansi tanggal 2 Februari 1906 yang diundangkan tanggal 1 Maret 1906 memutuskan Kota Bandung dinaikkan statusnya menjadi Pemerintah Kota (Gemeente). Sejak itulah Kota Bandung sah lepas dari Kabupaten Bandung, walaupun ibukota Kabupaten Bandung masih terletak di Kota Bandung.
Kursus Komputer bersertifikat. Lembaga kursus Citra Telematika menyelenggarakan :
1. Aplikasi Perkantoran
2. Desain Grafis
3. Jaringan Komputer
4. Robotika
5. Pemasaran Digital
Kursus Komputer di Majalengka
Citra Telematika - Kursus Komputer di Majalengka

Jl. Raya Timur No. 65, Ciborelang, Jatiwangi
Kab. Majalengka
(0233) 8281236 | 085216667297