Pencemaran Udara
Artikel ini memerlukan lebih tidak sedikit catatan kaki guna pemastian. Bantulah memperbaiki tulisan ini dengan menambahkan daftar kaki dari sumber yang terpercaya. Tulisan yang tidak bisa diverifikasi bakal dipertanyakan serta bisa disembunyikan ataupun dihapus sewaktu-waktu oleh Pengurus.
Pencemaran udara ialah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang bisa membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
Pencemaran udara dapat dimunculkan oleh sumber-sumber alami maupun pekerjaan manusia. Beberapa pengertian gangguan jasmani seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dirasakan sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan akibat pencemaran udara dapat mempunyai sifat langsung dan lokal, regional, maupun global.
Pencemaran udara di dalam ruangan dapat memprovokasi kesehatan insan sama buruknya dengan perusakan udara di ruang terbuka.[1]
Kumpulan isi :
1: Sumber polusi udara
2: Jenis-jenis bahan pencemar udara (polutan)
3: Dampak
3.1. Dampak kesehatan
3.2. Dampak terhadap tanaman
3.3. Hujan asam
3.4. Efek lokasi tinggal kaca
3.5. Kerusakan lapisan ozon
4. Referensi
5. Pranala luar
Sumber polusi udara[sunting | sunting sumber]
Pencemar udara dipisahkan menjadi dua yaitu, pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer ialah substansi pencemar yang dimunculkan langsung dari sumber perusakan udara. Karbon monoksida ialah sebuah misal dari pencemar udara primer sebab ia adalahhasil dari pembakaran. Pencemar sekunder ialah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia ialah sebuah misal dari perusakan udara sekunder.
Belakangan ini tumbuh keprihatinan bakal efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan global yg memengaruhi;
Aktivitas insan
Transportasi
Industri
Pembangkit listrik
Pembakaran (perapian, kompor, furnace, insinerator dengan sekian banyak jenis bahan bakar) tergolong pembakaran biomassa secara tradisional[2][3]
Gas buang pabrik yang menghasilkan gas riskan seperti CFC
Sumber alami
Gunung berapi
Rawa-rawa
Kebakaran hutan
Denitrifikasi
Dalam situasi tertentu, vegetasi bisa menghasilkan senyawa organik volatil yang signifikan yang dapat bereaksi dengan polutan antropogenik menyusun polutan sekunder[4]
Sumber-sumber beda
Transportasi
Kebocoran tangki gas
Gas metana dari tempat pengasingan akhir sampah
Uap pelarut organik
Jenis-jenis bahan pencemar udara (polutan)[sunting | sunting sumber]
Karbon monoksida
Oksida nitrogen
Oksida sulfur
CFC
Hidrokarbon
Senyawa organik volatil[4]
Partikulat[5]
Radikal bebas[6][7]
Dampak[sunting | sunting sumber]
Dampak kesehatan[sunting | sunting sumber]
Substansi pencemar yang terdapat di angkasa dapat masuk ke dalam tubuh melewati sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung untuk jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat terbendung di drainase pernapasan unsur atas, sementara partikulat berukuran kecil dan gas dapat menjangkau paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke semua tubuh.
Dampak kesehatan yang sangat umum dijumpai ialah ISPA (infeksi drainase pernapasan atas), tergolong di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik.
Diperkirakan akibat pencemaran udara di Jakarta yang sehubungan dengan kematian prematur, perawatan lokasi tinggal sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISNA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan bakal meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah pada tahun 2015.[butuh rujukan]
Dampak terhadap tanaman[sunting | sunting sumber]
Tanaman yang tumbuh di wilayah dengan tingkat perusakan udara tinggi bisa terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara beda klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tumbuhan dapat menghambat proses fotosintesis.
Hujan asam[sunting | sunting sumber]
pH biasa air hujan ialah 5,6 sebab adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara laksana SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan menyusun asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:
Mempengaruhi kualitas air permukaan
Merusak tanaman
Melarutkan logam-logam berat yang ada dalam tanah sampai-sampai memengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
Bersifat korosif sampai-sampai merusak material dan bangunan
Efek lokasi tinggal kaca[sunting | sunting sumber]
Efek lokasi tinggal kaca diakibatkan oleh eksistensi CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan gejala pemanasan global.
Dampak dari pemanasan global merupakan:
Peningkatan suhu rata-rata bumi
Pencairan es di kutub
Perubahan iklim regional dan global
Perubahan siklus hidup tumbuhan dan fauna
Kerusakan lapisan ozon[sunting | sunting sumber]
Lapisan ozon yang sedang di stratosfer (ketinggian 20–35 km) adalahpelindung alami bumi yang bermanfaat memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang menjangkau stratosfer dan mempunyai sifat sangat stabil mengakibatkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sampai-sampai terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.
Kursus Komputer bersertifikat. Lembaga kursus Citra Telematika menyelenggarakan :
1. Aplikasi Perkantoran
2. Desain Grafis
3. Jaringan Komputer
4. Robotika
5. Pemasaran Digital
Citra Telematika - Kursus Komputer di Majalengka
|
Jl. Raya Timur No. 65, Ciborelang, Jatiwangi
Kab. Majalengka
(0233) 8281236 | 085216667297


0 Komentar