Kursus Komputer Majalengka
Hutan bakau

Hutan bakau di Muara Angke, Jakarta (2007)

Salah Satu Penampakan Hutan Bakau Teluk Kendari Tahun 2013.

Hutan bakau di Zambia, Afrika.

Hutan bakau atau disebut pun hutan mangrove ialah hutan yang tumbuh di air payau,dan diprovokasi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh terutama di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di dekat muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Ekosistem hutan bakau mempunyai sifat khas, baik sebab adanya pelumpuran yang menyebabkan kurangnya abrasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta merasakan daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya tidak banyak jenis tanaman yang bertahan hidup di lokasi semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan mempunyai sifat khas hutan bakau sebab telah melalui proses adaptasi dan evolusi.
Kumpulan isi :
1 : Luas dan penyebaran
2 : Lingkungan jasmani dan zonasi
 2.1 : Jenis tanah
 2.2 : Terpaan ombak
 2.3 : Penggenangan oleh air pasang
3 : Bentuk-bentuk adaptasi
4 : Perkembangbiakan
5 : Suksesi hutan bakau
6 : Kekayaan flora
 6.1 : Penyusun Utama
 6.2 : Penyusun minor
7  : Fungsi dan manfaat
8  : Artikel bersangkutan
9  : Rujukan
10 : Catatan kaki
11 : Referensi
12 : Bacaan lanjutan
13 : Pranala luar

Luas dan penyebaran[sunting | sunting sumber]
Hutan bakau menyebar luas di unsur yang lumayan panas di dunia, khususnya di sekeliling khatulistiwa di distrik tropika dan tidak banyak di subtropika.
Luas hutan bakau di Indonesia antara 2,5 sampai 4,5 juta hektar, adalahmangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999).
Luas bakau di Indonesia menjangkau 25 persen dari total luas mangrove di dunia. Namun beberapa kondisinya kritis.[1]

Di Indonesia, hutan mangrove yang luas terdapat di dekat Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan adalahtempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai unsur timur Sumatra dan pantai barat serta unsur selatan Kalimantan. Di pantai unsur utara Jawa, hutan-hutan ini sudah lama terkikis oleh keperluan penduduknya terhadap lahan.
Di bagian unsur timur Indonesia, di ambang Dangkalan Sahul, hutan mangrove yang masih baik ada di pantai barat daya Papua, terutama di dekat Teluk Bintuni. Mangrove di Papua menjangkau luas 1,3 juta ha, selama sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.
Lingkungan jasmani dan zonasi[sunting | sunting sumber]

Pandangan di atas dan di bawah air, dekat perakaran pohon bakau, Rhizophora sp.
Jenis tanaman hutan bakau ini berbeda-beda, sebab bereaksi terhadap variasi (perubahan) lingkungan jasmani di atas, sehingga menimbulkan zona-zona vegetasi tertentu. Beberapa hal lingkungan jasmani tersebut ialah sebagai inilah :
Jenis tanah :
Sebagai distrik pengendapan, substrat di pesisir dapat sangat berbeda. Yang sangat umum ialah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Akan namun di sejumlah tempat, bahan organik ini sedemikian tidak sedikit proporsinya; bahkan terdapat pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah gambut.
Substrat yang lain ialah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi, atau bahkan berpengaruh pecahan karang, di pantai-pantai yang berdampingan dengan terumbu karang.

Terpaan ombak :
Bagian luar atau unsur depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka tidak jarang harus merasakan terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Tidak laksana bagian dalamnya yang lebih tenang.
Yang agak serupa ialah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai, yaitu yang terletak di ambang sungai. Perbedaannya, salinitas di unsur ini tidak begitu tinggi, khususnya di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Hutan bakau pun adalahsalah satu perisai alam yang menyangga laju ombak besar.

Penggenangan oleh air pasang :
Bagian luar pun mengalami genangan air pasang yang sangat lama dikomparasikan bagian yang lainnya; bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Pada pihak lain, bagian-bagian di terpencil hutan mungkin melulu terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan.

Menghadapi variasi situasi lingkungan laksana ini, secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove; yang seringkali berlapis-lapis, mulai dari unsur terluar yang terkena gelombang laut, sampai ke terpencil yang relatif kering.
Jenis bakau (Rhizophora spp.) seringkali tumbuh di unsur luar (yang sering digempur ombak.) Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada unsur laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini.
Di unsur yang lebih dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui gabungan bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di sekitar tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa didatangi nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.).
Pada unsur yang lebih kering di terpencil hutan diperoleh nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun kecil (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).

Bentuk-bentuk adaptasi
Menghadapi lingkungan yang fanatik di hutan bakau, tetumbuhan beradaptasi dengan sekian banyak  cara. Secara fisik, banyak sekali vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas guna bertahan hidup. Seperti ragam bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun terdapat pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.

Tegakan api-api Avicennia di ambang laut. Perhatikan akar napas yang hadir ke atas lumpur pantai.
Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang seringkali tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) guna bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang hadir dari pekatnya lumpur untuk memungut oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) memiliki akar lutut (knee root), sedangkan pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; dua-duanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, seraya pula menemukan udara untuk pernapasannya. Ditambah pula banyak sekali jenis-jenis vegetasi mangrove mempunyai lentisel, lubang pori pada pepagan guna bernapas.
Untuk menanggulangi salinitas yang tinggi, api-api mengeluarkan keunggulan garam melewati kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, laksana Rhizophora mangle, mengembangkan sistem perakaran yang nyaris tak tertembus air garam. Air yang terserap sudah hampir-hampir tawar, selama 90-97% dari kandungan garam di air laut tak dapat melewati saringan akar ini. Garam yang sempat terdapat di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan bakal terbuang bareng gugurnya daun.
Pada pihak yang lain, menilik sukarnya mendapat  air tawar, vegetasi mangrove mesti berupaya menjaga kandungan air di dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Beberapa jenis tanaman hutan bakau dapat mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik, sehingga meminimalisir evaporasi dari daun.

Perkembangbiakan
Adaptasi beda yang penting ditunjukkan dalam urusan perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan bakau nyaris tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain situasi kimiawinya yang ekstrem, kondisi jasmani berupa lumpur dan pasang-surut air laut menciptakan biji sukar menjaga daya hidupnya.
Hampir seluruh jenis tumbuhan hutan bakau mempunyai biji atau buah yang bisa mengapung, sampai-sampai dapat tersebar dengan mengekor arus air. Di samping itu, tidak sedikit dari jenis-jenis mangrove yang mempunyai sifat vivipar: yaitu biji atau benihnya sudah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon.
Contoh yang sangat dikenal barangkali ialah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Buah pohon-pohon ini sudah berkecambah dan menerbitkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah ini bisa langsung menancap di lumpur di lokasi jatuhnya, atau terbawa air pasang, tercantol dan tumbuh pada bagian beda dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh.
Buah nipah (Nypa fruticans) telah hadir pucuknya sedangkan masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa (Aegiceras), jeruju (Acanthus) dan sejumlah lainnya sudah pula berkecambah di pohon, walau tak terlihat dari sebelah luarnya. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi menambah keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini dinamakan dengan istilah propagul.
Propagul-propagul laksana ini bisa terbawa oleh arus dan ombak laut sampai berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan barangkali menyeberangi laut atau selat bareng kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul bisa ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, sekitar perjalanan hingga tiba di tempat yang cocok. Jika bakal tumbuh menetap, sejumlah jenis propagul dapat mengolah perbandingan mutu bagian-bagian tubuhnya, sampai-sampai bagian akar mulai terbenam dan propagul mengapung vertikal di air. Ini memudahkannya untuk tercantol dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur.

Suksesi hutan bakau
Tumbuh dan berkembangnya sebuah hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). Hutan bakau adalahsuatu misal suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Dengan adanya proses suksesi ini, butuh diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal, tetapi secara perlahan-lahan bergeser.
Suksesi dibuka dengan terbentuknya suatu penyampaian lumpur (mudflat) yang dapat bermanfaat sebagai substrat hutan bakau. Hingga pada suatu ketika substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove, dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau.
Tumbuhnya hutan bakau di sebuah tempat mempunyai sifat menangkap lumpur. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai, pasir yang terbawa arus laut, segala macam sampah dan hancuran vegetasi, bakal diendapkan salah satu perakaran vegetasi mangrove. Dengan demikian lumpur lambat laun bakal terakumulasi semakin tidak sedikit dan semakin cepat. Hutan bakau juga semakin meluas.
Pada saatnya unsur dalam hutan bakau bakal mulai mengering dan menjadi tidak sesuai lagi untuk pertumbuhan jenis-jenis pionir laksana Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. Ke unsur ini masuk jenis-jenis baru laksana Bruguiera spp. Maka terbentuklah zona yang baru di unsur belakang.
Demikian evolusi terus terjadi, yang memakan masa-masa berpuluh sampai beratus tahun. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau, zona-zona berikutnya pun berlahiran di bagian terpencil yang mengering.
Uraian di atas ialah penyederhanaan, dari suasana alam yang bahwasannya jauh lebih rumit. Karena tidak tidak jarang kali hutan bakau terus meningkat luas, bahkan barangkali dapat berakhir karena faktor-faktor alam laksana abrasi. Demikian pula timbulnya zona-zona tak tidak jarang kali dapat diperkirakan.
Di wilayah-wilayah yang sesuai, hutan mangrove ini bisa tumbuh meluas menjangkau ketebalan 4 km atau lebih; meskipun pada umumnya tidak cukup dari itu.

Kekayaan flora
Beraneka jenis tanaman dijumpai di hutan bakau. Akan tetapi melulu sekitar 54 spesies dari 20 genera, anggota dari selama 16 suku, yang dirasakan sebagai jenis-jenis mangrove sejati. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya.
Dari jenis-jenis itu, selama 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia; menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang sangat kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik. Total jenis borongan yang sudah diketahui, tergolong jenis-jenis mangrove ikutan, ialah 202 spesies
(Noor dkk, 1999).
Berikut ini ialah daftar suku dan genus mangrove sejati, beserta jumlah jenisnya (dimodifikasi dari Tomlinson, 1986).
Penyusun utama[sunting | sunting sumber]
Suku
Genus, jumlah spesies
Acanthaceae (syn.: Avicenniaceae atau Verbenaceae)
Avicennia (api-api), 9
Combretaceae
Laguncularia, 11; Lumnitzera (teruntum), 2
Arecaceae
Nypa (nipah), 1
Rhizophoraceae
Bruguiera (kendeka), 6; Ceriops (tengar), 2; Kandelia (berus-berus), 1; Rhizophora (bakau), 8
Sonneratiaceae
Sonneratia (pidada), 5
Penyusun minor[sunting | sunting sumber]

Paku laut, Acrostichum aureum.
Suku
Genus, jumlah spesies
Acanthaceae
Acanthus (jeruju), 1; Bravaisia, 2
Bombacaceae
Camptostemon, 2
Cyperaceae
Fimbristylis (mendong), 1
Euphorbiaceae
Excoecaria (kayu buta-buta), 2
Lythraceae
Pemphis (cantigi laut), 1
Meliaceae
Xylocarpus (nirih), 2
Myrsinaceae
Aegiceras (kaboa), 2
Myrtaceae
Osbornia, 1
Pellicieraceae
Pelliciera, 1
Plumbaginaceae
Aegialitis, 2
Pteridaceae
Acrostichum (paku laut), 3
Rubiaceae
Scyphiphora, 1
Sterculiaceae
Heritiera (dungun)2, 3

Fungsi dan manfaat[sunting | sunting sumber]
Dari segi ekonomi, hutan mangrove menghasilkan sejumlah jenis kayu yang berbobot | berbobot | berkualitas baik, dan pun hasil-hasil non-kayu atau yang biasa dinamakan dengan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), berupa arang kayu; tanin, bahan pewarna dan kosmetik; serta bahan pangan dan minuman. Termasuk pula di antaranya ialah hewan-hewan yang biasa ditangkapi laksana biawak air (Varanus salvator), kepiting bakau (Scylla serrata), udang lumpur (Thalassina anomala), siput bakau (Telescopium telescopium), serta sekian banyak  jenis ikan belodok.
Manfaat yang lebih urgen dari hutan bakau ialah fungsi ekologisnya sebagai pelindung pantai, habitat sekian banyak  jenis satwa, dan lokasi pembesaran (nursery ground) tidak sedikit jenis ikan laut.
Salah satu faedah utama hutan bakau ialah untuk mengayomi garis pantai dari abrasi atau pengikisan, serta meredam gelombang besar tergolong tsunami. Di Jepang, di antara upaya mengurangi akibat ancaman tsunami ialah dengan membina green belt atau sabuk hijau berupa hutan mangrove. Sedangkan di Indonesia, selama 28 distrik dikategorikan rawan terpapar tsunami sebab hutan bakaunya sudah tidak sedikit beralih faedah menjadi tambak, kebun kelapa sawit dan alih faedah lain.[2]
Kursus Komputer bersertifikat. Lembaga kursus Citra Telematika menyelenggarakan :
1. Aplikasi Perkantoran
2. Desain Grafis
3. Jaringan Komputer
4. Robotika
5. Pemasaran Digital
Kursus Komputer di Majalengka
Citra Telematika - Kursus Komputer di Majalengka

Jl. Raya Timur No. 65, Ciborelang, Jatiwangi
Kab. Majalengka
(0233) 8281236 | 085216667297