Kursus Komputer Majalengka
Krakatau

Artikel ini mengandung uraian mengenai pulau dan gunung Krakatau. Bagi lainnya, lihat Krakatau (disambiguasi).
Untuk nama kereta api, lihat Kereta api Krakatau Ekspres.
Krakatau
Letusan Krakatau 1883.
Titik tertinggi
Ketinggian
813 m (2.667 kaki)
Geografi

Krakatau
Lokasi di dalam Indonesia
Letak
Selat Sunda, Indonesia
Geologi
Jenis gunung
Kaldera vulkanik
Letusan terakhir
Sabtu, 22 Desember 2018
Krakatau (atau Rakata) ialah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan sedang di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini juga dicantumkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna sebab letusan kataklismik pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Pada tahun 2019, area yang kini adalahcagar alam ini mempunyai empat pulau kecil: Pulau Rakata, Pulau Anak Krakatau, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang (Rakata Kecil). Berdasarkan kajian geologi, seluruh pulau ini berasal dari sistem gunung berapi tunggal Krakatau yang pernah terdapat di masa lalu.
Krakatau dikenal dunia sebab letusan yang paling dahsyat di tahun 1883. Awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan selama 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini ialah yang terdahsyat di area Samudera Hindia. Suara letusan tersebut terdengar hingga di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diduga mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Selat Sunda
Letusan Krakatau mengakibatkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap sekitar dua separuh hari dampak debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bercahaya redup sampai satu tahun berikutnya. Hamburan debu tampak di awang Norwegia sampai New York.
Ledakan Krakatau ini sebetulnya masih kalah dikomparasikan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung berapi Taupo di Selandia Baru dan Gunung Katmai di Alaska. Namun gunung-gunung itu meletus jauh pada masa saat populasi insan masih paling sedikit. Sementara saat Gunung Krakatau meletus, populasi insan sudah lumayan padat, sains dan teknologi sudah berkembang, telegraf telah ditemukan, dan kabel bawah laut telah dipasang. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa saat tersebut teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.
Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau ialah bencana besar kesatu di dunia sesudah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan peradaban di bidang geologi. Para berpengalaman geologi saat tersebut bahkan belum dapat memberikan penjelasan tentang letusan tersebut. Gunung Krakatau yang meletus, getarannya terasa hingga Eropa.
Kumpulan isi
1
Perkembangan Gunung Krakatau
1.1
Gunung Krakatau Purba
1.2
Munculnya Gunung Krakatau
1.3
Erupsi 1883
1.4
Anak Krakatau
2
Krakatau dalam karya seni
2.1
Film
2.2
Sastra
3
Lihat pula
4
Referensi
5
Pranala luar
Perkembangan Gunung Krakatau[sunting | sunting sumber]
Gunung Krakatau Purba[sunting | sunting sumber]
Melihat area Gunung Krakatau di Selat Sunda, para berpengalaman memperkirakan bahwa pada masa purba ada gunung yang paling besar di Selat Sunda yang kesudahannya meletus dahsyat yang menyisakan suatu kaldera (kawah besar) yang dinamakan Gunung Krakatau Purba, yang adalahinduk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini dibentuk dari bebatuan andesitik.
Letusan Krakatau Purba, diduga pada tahun 416 Masehi, barangkali dapat diartikan dari buku pedalangan Pustaka Raja Purwa yang isinya antara lain mengaku

... terdapat suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mencekam dan semua badai menggelapkan semua dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur mengarah ke Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, membuat pulau Sumatera


Pakar geologi Berend George Escher dan beberapa berpengalaman lainnya berasumsi bahwa kejadian alam yang dikisahkan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks dinamakan Gunung Batuwara. Berdasarkan keterangan dari Pustaka Raja Purwa, tinggi Krakatau Purba ini menjangkau 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya menjangkau 11 kilometer.
Akibat ledakan yang hebat itu, tiga per empat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang (Rakata Kecil) dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung jawab atas terjadinya tahun kegelapan di muka bumi. Wabah sampar terjadi sebab suhu bumi menurun. Sampar ini secara signifikan meminimalisir jumlah warga di muka bumi.
Letusan ini juga dirasakan turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya kemajuan Arab Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya kemajuan Nazca di Amerika Selatan yang sarat teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan dilangsungkan selama 10 hari dengan estimasi kecepatan muntahan massa menjangkau 1 juta ton per detik. Ledakan itu telah menyusun perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat sekitar 10-20 tahun. >>
Munculnya Gunung Krakatau[sunting | sunting sumber]

Perkembangan Gunung Krakatau
Pulau Rakata, yang adalahsatu dari tiga pulau saldo Gunung Krakatau Purba lantas tumbuh cocok dengan desakan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata) yang tercipta dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api hadir dari tengah kawah, mempunyai nama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang lantas menyatu dengan Gunung Rakata yang hadir terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api berikut yang dinamakan Gunung Krakatau.
Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif menerbitkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak terdapat lagi kegiatan vulkanis di Krakatau sampai 20 Mei 1883. Pada hari itu, sesudah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda mula bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini lantas disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-27 Agustus 1883.
Erupsi 1883[sunting | sunting sumber]
Artikel utama guna bagian ini merupakan: ‎Letusan Krakatau 1883
Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, terjadi ledakan pada gunung tersebut. Berdasarkan keterangan dari Simon Winchester, berpengalaman geologi alumni Universitas Oxford Inggris yang pun penulis National Geographic menuliskan bahwa ledakan itu ialah yang sangat besar, suara sangat keras dan peristiwa vulkanik yang sangat meluluhlantakkan dalam sejarah insan modern. Suara letusannya tersiar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan bisa didengar oleh 1/8 warga bumi ketika itu.
Berdasarkan keterangan dari para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bareng ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records menulis ledakan Krakatau sebagai ledakan yang sangat hebat yang terekam dalam sejarah.
Ledakan Krakatau telah membuang batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya menjangkau 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara tersebut jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan hingga ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.
Letusan tersebut menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta beberapa Gunung Rakata di mana separuh kerucutnya hilang, menciptakan cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Tsunami (gelombang laut) naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang sedang di pesisir pantai. Tsunami ini timbul tidak saja karena letusan tetapi pun longsoran bawah laut.
Tercatat jumlah korban yang tewas menjangkau 36.417 orang berasal dari 295 dusun kawasan pantai mulai dari Merak di Kota Cilegon sampai Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten sampai Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan). Di Ujungkulon, air bah masuk hingga 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai sejumlah hari kemudian, warga Jakarta dan Lampung terpencil tidak lagi menyaksikan matahari. Gelombang Tsunami yang dimunculkan bahkan merambat sampai ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.
Anak Krakatau[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk kelompok ini ialah Pulau Anak Krakatau.

Anak Krakatau, dua tahun sejak mula terbentuknya. Foto dipungut 12 atau 13 Mei 1929, koleksi Tropenmuseum.
Mulai pada tahun 1927 atau tidak cukup lebih 40 tahun sesudah meletusnya Gunung Krakatau, hadir gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari area kaldera purba itu yang masih aktif dan tetap meningkat tingginya. Kecepatan perkembangan tingginya selama 0.5 meter (20 inci) per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi selama 6 meter (20 kaki) dan lebih lebar 12 meter (40 kaki). Catatan lain melafalkan penambahan tinggi selama 4 cm masing-masing tahun dan andai dihitung, maka dalam masa-masa 25 tahun peningkatan tinggi anak Rakata menjangkau 190 meter (7.500 inci atau 500 kaki) lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu diakibatkan oleh material yang terbit dari perut gunung baru itu. Saat ini elevasi Anak Krakatau menjangkau sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sedangkan Gunung Krakatau sebelumnya mempunyai tinggi 813 meter dari permukaan laut.
Berdasarkan keterangan dari Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang dulu paling menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang mengherankan akan meyakinkan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu saat akan terjadi kembali. Tak terdapat yang tahu tentu kapan Anak Krakatau bakal meletus. Beberapa berpengalaman geologi menebak letusan ini bakal terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 pun tidak dapat diabaikan.

Anak Krakatau, Februari 2008
Berdasarkan keterangan dari Profesor Ueda Nakayama salah seorang berpengalaman gunung api berkebangsaan Jepang, Anak Krakatau masih relatif aman walau aktif dan tidak jarang ada letusan kecil, melulu ada saat-saat tertentu semua turis dilarang mendekati area ini sebab bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain mengaku tidak terdapat teori yang masuk akal mengenai Anak Krakatau yang bakal kembali meletus. Kalaupun ada paling tidak 3 abad lagi atau setelah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang dimunculkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya. Anak Krakatau ketika ini secara umum oleh masyarakat lebih dikenal dengan sebutan "Gunung Krakatau" juga, meskipun sesungguhnya ialah gunung baru yang tumbuh pasca letusan sebelumnya.
Krakatau dalam karya seni[sunting | sunting sumber]
Film[sunting | sunting sumber]
Krakatoa, East of Java Drama, Amerika Serikat, 1969, Sutradara: Bernard Kowalski, bareng pemeran utama Maximilian Schell
Krakatau – Ein Vulkan verändert die Welt. Doku-Drama, 2006, 45 Min., Sutradara dan naskah: Jeremy Hall, Produksi: ZDF, Laman di ZDF
Krakatoa. The Last Days, Dokudrama, Britania Raya, 2006, 87 Min., Sutradara: Sam Miller, Produksi BBC, dengan Rupert Penry-Jones dan Olivia Williams sebagai pemeran utama. Laman di BBC
Sastra[sunting | sunting sumber]
Syair Lampung Karam artikel Mohammad Saleh, keluar di Singapura (1883) berbahasa Melayu.
Kursus Komputer bersertifikat. Lembaga kursus Citra Telematika menyelenggarakan :
1. Aplikasi Perkantoran
2. Desain Grafis
3. Jaringan Komputer
4. Robotika
5. Pemasaran Digital
Kursus Komputer di Majalengka
Citra Telematika - Kursus Komputer di Majalengka

Jl. Raya Timur No. 65, Ciborelang, Jatiwangi
Kab. Majalengka
(0233) 8281236 | 085216667297